Oleh : Dr. Nanang Al Hidayat, S.H., M.H. | Asra’i Maros., S.Sos., M.Si. | Joko Sunaryo, S.Sos., M.A.
BUMDes kembali menjadi sorotan sebagai salah satu instrumen penting dalam mendorong kemandirian ekonomi desa. Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks, desa dituntut tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek yang mampu mengelola potensi dan sumber dayanya secara mandiri dan berkelanjutan. Salah satu upaya nyata ke arah tersebut dilakukan di Dusun Pulau Pekan, Kecamatan Bungo Dani, Kabupaten Bungo, melalui kegiatan pendampingan penguatan tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berbasis potensi lokal.
Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan pada Senin, 15 Desember 2025, oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Kampus IAK Setih Setio Muara Bungo. Tim pengabdian terdiri dari Dr. Nanang Al Hidayat, S.H., M.H., Asra’i Maros, S.Sos., M.Si., dan Joko Sunaryo, S.Sos., M.Si. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk hadir langsung di tengah masyarakat desa, tidak hanya melalui kajian akademik, tetapi juga lewat aksi nyata yang berdampak langsung.
BUMDes sejatinya dirancang sebagai motor penggerak ekonomi desa. Melalui BUMDes, potensi lokal yang dimiliki desa baik di sektor pertanian, perdagangan, maupun jasa dapat dikelola secara kolektif demi kesejahteraan masyarakat. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit BUMDes yang berjalan terseok-seok. Permasalahan tata kelola, lemahnya kapasitas sumber daya manusia, hingga belum jelasnya arah pengembangan usaha sering kali menjadi hambatan utama.
Hal inilah yang juga ditemui di Dusun Pulau Pekan. Desa ini memiliki potensi lokal yang cukup menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya dioptimalkan melalui BUMDes. Pengelolaan usaha masih bersifat sporadis, perencanaan belum berbasis pemetaan potensi yang matang, dan peran antara pemerintah desa dan pengelola BUMDes belum sepenuhnya terpisah secara profesional. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendampingan yang tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menyentuh aspek mendasar tata kelola BUMDes.
Dalam kegiatan pendampingan ini, tim pengabdian memberikan penguatan pemahaman mengenai posisi strategis BUMDes dalam pembangunan desa. BUMDes tidak boleh dipahami hanya sebagai badan usaha biasa, tetapi sebagai lembaga sosial-ekonomi yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, tanpa meninggalkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Tata kelola yang baik menjadi kunci agar BUMDes mampu tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang.
Pendampingan dilakukan melalui dialog dan diskusi interaktif dengan pengelola BUMDes, aparatur desa, serta perwakilan masyarakat. Dalam diskusi tersebut, berbagai persoalan mengemuka, mulai dari keterbatasan modal, lemahnya manajemen usaha, hingga belum optimalnya pemanfaatan potensi lokal. Tim pengabdian kemudian mendorong peserta untuk bersama-sama memetakan potensi desa yang realistis untuk dikembangkan sebagai unit usaha BUMDes.
Hasilnya, muncul kesadaran kolektif bahwa penguatan BUMDes harus dimulai dari pembenahan tata kelola. Pembagian peran yang jelas antara pemerintah desa sebagai pembina dan pengawas dengan pengelola BUMDes sebagai pelaksana usaha menjadi salah satu poin penting yang ditekankan. Tanpa kejelasan peran dan tanggung jawab, BUMDes berpotensi terjebak dalam konflik kepentingan dan pengelolaan yang tidak profesional.
Selain itu, pendampingan ini juga menekankan pentingnya perencanaan usaha yang berbasis pada potensi lokal desa. Pengelolaan hasil pertanian, perdagangan kebutuhan pokok masyarakat, serta jasa layanan yang sesuai dengan kebutuhan warga menjadi beberapa peluang usaha yang dapat dikembangkan. Dengan perencanaan yang matang dan berbasis kebutuhan riil masyarakat, BUMDes diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian desa.
Kegiatan pendampingan di Pulau Pekan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pemerintah desa. Antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi menunjukkan adanya harapan besar agar BUMDes benar-benar dapat menjadi tulang punggung ekonomi desa. Pendampingan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dari atas, tetapi memerlukan pendampingan, penguatan kapasitas, dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.
Ke depan, penguatan BUMDes di Dusun Pulau Pekan tentu membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat desa perlu terus bersinergi agar BUMDes dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. Jika dikelola dengan tata kelola yang baik dan berbasis potensi lokal, BUMDes bukan hanya menjadi simbol kemandirian desa, tetapi juga harapan nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di akar rumput.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Kampus IAK Setih Setio Muara Bungo menegaskan perannya sebagai mitra strategis desa dalam pembangunan. Pendampingan BUMDes di Pulau Pekan menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa dapat menghadirkan perubahan yang konkret, dimulai dari penguatan tata kelola, kesadaran kolektif, hingga upaya membangun ekonomi desa yang berkelanjutan.













